BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia adalah yang di ciptakan sebagai mahluk sosial memang di anjurkan
untuk saling tolong menolong antar sesama. Namun dalam hal ini kita di anjurkan
untuk menjadi pemberi bukan yang
menerima pemberian. Maka untuk mewujudkannya kita harus berusaha untuk dapat
memenuhi kebutuhan kita agar nantinya setelah kebutuhan itu terpenuhi maka kita
akan dapat memberi atau menolong orang yang membutuhkan. Yaitu dengan cara
berwirausaha.
Wirausaha merupakan slah satu tindakan kreatip yang di lakukan oleh manusia
dengan berani menanggung resiko akan kegagalan, dalam membangun usaha dalam
jenis apapun itu. Dan dalam hal ini seorang bisnisman dapat membuat lapangan
usaha bagi manusia lainnya. Hal itu baik dalam bidang produksi, distribusi,
atau bahkan bidang pertanian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian wirausaha?
2. Bagaimana pandangan hadist mengenai berwirausaha?
3. Bagaimana cara membangun motivasi dalam berwirausaha?
4. Bagaimana karakteristik berwirausaha?
5. Bagaimana pandangan hadist mengenai bertani dan berkebun?
C. Tujuan pembahasan
Tujuan membahas materi ini adalah agar kita mengetahui bagaimana sebenarnya
pentingnya berwirausaha itu. Dan agar kita mengetahui bagaimana karakteristik
berwirausaha menurut pandangan islam, motivasinya, dan lain sebagainya.
BAB II
PEMBAHASAN
KEWIRAUSAHAAN
DAN ETOS KERJA
A. Pengertian Wirausaha
Wirausaha/ wiraswasta atau yang sering dipadankan dengan entrepreneur, secara bahasa
(etimologis) wira berarti perwira, utama, teladan, berani. Swa berarti sendiri,
sedangkan sta berarti berdiri. Jadi wiraswasta keberanian berdiri sendiri di
atas kaki sendiri. Dengan demikian pengertian wiraswasta atau wirausaha sebagai
padanan entrepreneur adalah orang yang berani membuka lapangan pekerjaan
dengan kekuatan sendiri, yang pada gilirannya tidak saja menguntungkan dirinya
sendiri, tetapi juga menguntungkan masyarakat, karena dapat menyerap tenaga
kerja yang memerlukan pekerjaan.[1]
Isi kandungan hadis pertama menjelaskan bahwa Allah SWT. suka atau lebih
mencintai hamba-hambanya yang mukmin untuk berkarya atau bekerja keras. Dengan
demikian bisa diambil poin penting dari hadis pertama tentang berkarya. Dalam
berwirausaha, seseorang harus mempunyai jiwa untuk berkarya, dan biasanya
mereka mempunyai karakteristik-karakteristik berwirausaha yang melekat pada
dirinya.
B. Karakteristik Wirausaha
Berwirausaha mempunyai
beberapa karakteristik yang menonjol, di antaranya adalah:
- Proaktif, suka mencari informasi yang ada hubungannya dengan dunia yang digelutinya, agar mereka tidak ketinggalan informasi sehingga segala sesuatunya dapat disikapi dengan bijak dan tepat.
- Produktif, mementingkan pengeluaran yang bersifat produktif daripada yang bersifat konsumtif merupakan kunci untuk sukses. Memperhitungkan dengan teliti, dan cermat dalam memutuskan pengeluaran uang untuk hal-hal yang produktif bisa menekan kecenderungan pada hal-hal yang bersifat kemewahan, dan gengsi yang tidak menghasilkan keuntungan.
- Pemberdaya, memahami manajemen, menangani pekerjaan dengan membagi habis tugas dan memberdayakan orang lain dalam pembinaannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Dengan demikian di satu sisi tujuan bisnisnya tercapai, dan di sisi lain orang yang bekerja padanya juga di berdayakan sehingga mendapat pengalaman, yang pada gilirannya nanti dapat berdiri sendiri berkat pemberdayaan yang dilakukan oleh pemimpinnya. Sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin harus bertanggung jawab atas kepemimpinannya”.
- Tangan di atas, setiap rezeki yang diterima harus ada sebagian yang dibagikan kepada orang-orang yang kurang beruntung yang diberikan secara ikhlas. Bagi para wirausaha tangan di atas (suka memberi) ini merupakan hal penting dalam hidupnya karena setiap pemberian yang ikhlas menambah kualitas dan kuantitas rezekinya dan hidupnya penuh berkah. Itulah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. dalam salah satu hadisnya “Tangan di atas lebih mulia dari tangan yang di bawah”.
- Rendah hati, sejatinya menyadari keberhasilan yang dicapainya bukan sepenuhnya karena kehebatannya, tetapi ia sadar betul di samping upayanya yang sungguh-sungguh ia juga tidak terlepas dari pertolongan Allah, dan harus diyakini betul bagi para wirausaha muslim, sehingga akan selalu bersyukur dan tawadhu (rendah hati).
- Kreatif, mampu menangkap dan menciptakan peluang-peluang bisnis yang bisa dikembangkan, sehingga ia tidak pernah khawatir kehabisan lahan bisnisnya.
- Inovatif, sifat inovatif selalu mendorong kembali kegairahan untuk meraih kemajuan dalam berbisnis. Mampu melakukan pembaruan-pembaruan dalam menangani bisnis yang digelutinya, sehingga bisnis yang dilakukannya tidak pernah usang dan selalu dapat mengikuti perkembangan zaman.[2]
Bekerja keras bernilai ibadah dan mendapat pahala apabila dilakukan dengan
ikhlas, Islam memposisikan bekerja sebagai kewajiban kedua setelah shalat.
Dengan bekerja itu bernilai ibadah, maka segala yang kita kerjakan harus sesuai
dengan tuntutan ibadah dan tidak bertentangan dengan ketentuan syari’ah.
Semua yang kita lakukan dalam berwirausaha akan dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah ketika nanti kita berhadapan dengan pengadilan Allah di hari
kiamat. Baik cara mendapatkannya, mengumpulkannya, sumber kehalalannya, serta
pemanfaatan harta yang dikumpulkan.
Bekerja keras dengan etos kerja Islami maksudnya bekerja yang didasari
budaya kerja Islami yang bertumpu pada akhlakul karimah. Ciri-ciri orang
yang bekerja dengan etos kerja Islami nampak pada sikap dan prilaku dalam
kehidupan sehari-hari yang dilandasi oleh keyakinan yang sangat mendalam bahwa
bekerja itu ibadah dan berprestasi itu indah. Berikut sikap dan Prilaku
tersebut :
1.
Menghargai waktu
2.
Ikhlas
3.
Jujur
4.
Komitmen
5.
Istiqomah
6.
Disiplin
7.
Konsekuen
8.
Percaya diri
9.
Kreatif
10. Bertanggung jawab
11. Leadership
12. Berjiwa wirausaha
Kemudian dalam penjelasan hadis yang kedua, berkaitan dengan keseimbangan
hidup di dunia dan di akhirat. Kehidupan yang baik ialah kehidupan seseorang
yang mampu menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhiratnya dengan menyadari bahwa
hidup di dunia akan ada akhirnya, dan bekal hidup di akhirat hanyalah amal
shaleh yang kita lakukan selama hidup di dunia. Sebagai umat Islam kita
dilarang untuk menjadi beban orang lain, maka dari itu kita harus berusaha
untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dengan kemampuan kita sendiri.
Keselarasan hidup di dunia dan di akhirat juga disebutkan dalam hadis lain
riwayat Ibnu Asakir, “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup untuk
selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok”.
Maksudnya hadis ini ialah menggambarkan kehidupan duniawi dan kehidupan
ukhrawi, yakni bagaimana seseorang menjalani kedua kehidupan tersebut.[3]
C. Membangun Motivasi
Wirausaha
Agar kita dapat melaksanakan keseimbangan hidup tersebut perlu adanya
motivasi-motivasi dalam diri untuk membangun kita agar hidup ini lebih
bermanfaat. Dalam hal ini lebih ditekankan pada aspek membangun motivasi
wirausaha,
- Niat yang baik, merupakan pondasi dari amal perbuatan, sebagaimana hadis Rasulullah, “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya. Dan seseorang sesuai dengan apa yang ia niatkan”.
- Membulatkan tekad, berani melangkah dapat mewujudkan keberhasilan daripada setengah-setengah atau tidak berani bertekad dipastikan gagal.
- Percaya pada takdir dan ridha, dalam hal ini kita berpikir positif.
- Belajar dari filsafat alam, berawal dari yang kecil.
- Belajar dari pengalaman wirausaha yang sukses.
- Berinteraksi dengan akhlak, akhlak menempati posisi puncak dalam rancang bangun ekonomi Islam.
- Mengikuti program pengembangan, mengikuti kegiatan sosialisasi dan advokasi kewirausahawan agar dapat menumbuhkan, meningkatkan, dan mengembangkan.
- Kunjungan kerja, melakukan kunjungan ke sentra-sentra kegiatan ekonomi/ industri yang lebih maju.
- Kerja sebagai ibadah, dalam hal ini bekerja dengan ikhlas karena Allah.
- Bersyukur, merupakan konsekuensi logis dari bentuk rasa terima kasih atas nikmat-nikmat yang sudah Allah berikan selama ini kepada kita.[4]
Kerja dalam pengertian luas adalah bentuk usaha yang dilakukan manusia,
baik dalam hal materi atau nonmateri, intelektual atau fisik, maupun hal-hal
yang berkaitan dengan masalah keduniaan atau keakhiratan. Adapun pengertian
kerja secara khusus adalah potensi yang dikeluarkan manusia untuk memenuhi
tuntutan hidupnya berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, dan peningkatan
taraf hidupnya. Islam mempunyai perhatian besar terhadap kerja, baik dalam
pengertiannya yang umum maupun khusus. Dalam tradisi Islam, kerja dinilai
sebagai sesuatu yang paling tinggi, dan di lingkungan birokrasi pemerintah dan
politik, kerja masuk dalam kategori profesi yang sulit.[5]
Islam berpendapat bahwa seseorang tidak dapat hidup tanpa yang lain,
demikian juga para pekerja terhadap yang lain. Akan tetapi, Islam tidak
melarang pemberian definisi pekerja sebagai seseorang yang mencari upah, baik
pekerja tetap seperti pegawai negeri (biasanya golongan ini tidak masuk dalam
definisi kerja secara terminologi), pekerja di suatu perusahaan, koperasi,
dagang, maupun para pekerja sebagaimana pengertian dewasa ini, serta pekerja
dengan gaji yang tidak tetap dan disesuaikan dengan pekerjaannya, semisal kuli
dan tukang kayu.
Berikut hadist – hadist mengenai motivasi bekerja dan berbisnis
a. Motivasi bekerja dan berbisnis
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ
الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ
أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ
فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
MUFRADAT
Mukmin
yang kuat الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ
Lebih baik خَيْرٌ
Lebih allah cintai وَأَحَبُّ إِلَى اللَّه
Dari mukmin yang lemah الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ
Dan dalam setiap kebaikan وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ
Bersmangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
Minta tolong kepada allah وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
Perbuatan setan
عَمَلَ
الشَّيْطَانِ
Dari Abu
Hurairah ia berkata: Rasulullah bersabda: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih
Allah cintai dari mukmin yang lemah, dan dalam setiap kebaikan bersemangatlah
terhadap apa yang bermanfaat bagimu, minta tolonglah kepada Allah dan janganlah
lemah. Jika sesuatu terjadi padamu janganlah engkau mengatakan “andai aku
melakukan maka pasti akan begini dan begini”, akan tetapi katakanlah: “Ini
takdir Allah, Dia melakukan apapun yang Dia kehendaki”, sesungguhnya
berandai-andai itu membuka celah untuk perbuatan syaitan. (HR Muslim, no.
4816)
Penjelasan
hadist di atas:
Maksudnya adalah orang yang paling mulia di mata allah adalah orang
yang kuat bukan orang yang lemah, dan untuk perbuatan yang baik untuk kita, dan
dapat memperoleh manfaat bagi kita maka kerjakan dengan semangat. Mintalah pertolongan
kepada allah atas apa yang kita lakukan. Setelah kita berusaha maka janganlah
berandai – andai karena dalam hadist ini di jelaskan. Untuk berusaha di awal
agar janganada penyesalan di akhirnya.
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَكَلَ أَحَدٌ
طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ
اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
Dari Mi’dad bin
Ma’di Karib, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
Tidak ada makanan yang dimakan seseorang yang lebih baik dari memakan hasil
usaha tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabi Daud alaihissalam makan
dari hasil usaha tangannya sendiri. (HR. Bukhari no. 1930)
مَا أَكَلَ
أَحَدٌ طَعَامًا idak ada makanan
yang di makan seseorangt
خَيْرًا yang lebih baik
عَمَلِ يَدِهِ hasil usaha tanganya
نَبِيَّ اللَّهِ
دَاوُدَ Sesungguhnya nabi daud
alaihisallam
Pemjelasan dari
hadist:
Di sini di
tegaskan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mau berisaha untuk
memenuhi kebutuhannya. Karena hasil usaha sendiri itu lebih baikdi bandingkan
dengan hasil usaha orang lain. Baik itu pemberian maupun hasil orang peminta –
minta. Jika di kaitkan dengan berwira usaha maka kita sebagai manusia di tuntut
untuk mandiri, segala kebutuhan kita harus kita penuhi dengan usaha sendiri.
Tentunya dengan memohon pertolongan kepada allah.
عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ
الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ
Dari Rafi’ bin
Khadij ia berkata: ada orang bertanya: Ya Rasulullah, usaha apa yang paling
baik? Rasulullah menjawab: “Setiap usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan
setiap jual beli yang mabrur” (HR Ahmad, no.16628)
MUFRADAT
أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ Usaha apa yang paling baik
بَيْعٍ مَبْرُورٍ Setiap jual beli yang mabrur
Penjelasan hadist:
Mungkin pada hadist ini tidak jauh berbeda dengan hadist
sebelumnya. Yaitu mengenai usaha yang paling baik itu adalah usaha yang kita
lakukan sendiri namun dalam hal ini di berikan penjelasan sekilas mengenai
jenis usaha apa yang kita lakukan. Di sini di jelaskan yaitu jual beli yang
mabrur. Maksudnya di sini adalah kita di anjurkan melakukan jual beli.
Sebagaimana realita yang terjadi bahwa berwirausaha identik dengan jual beli.
عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا
أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ
وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ
Dari Miqdad bin Ma’di Karib bahwa Rasulullah bersabda: “Tidak ada
usaha yang dilakukan seseorang yang lebih baik dari pekerjaan dengan tangannya
sendiri dan apa yang dinafkahkan oleh seseorang terhadap dirinya, keluarganya,
anak-anaknya dan pembantunya maka itu adalah sedekah.”(HR. Ibnu
Majah, no. 2129)
MUFRADAT
وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ Apa yang di nafkahkan oleh seseorang
نَفْسِهِ Dirinya
أَهْلِهِ Keluarganya
وَلَدِهِ Anaknya-Anak
خَادِمِهِ Pembantunya
صَدَقَةٌ Sedekah
Penjelasan
hadist:
Jika hasil
usaha yang kita lakukan kita berikan untuk menapkahi keluarga, atau saudara
kita maka itu merupakan sedekah, melihat penjelasan tersebut kita pahami bahwa
betapa mulianya hasil usaha yang kita peroleh dengan tangan sendiri. Memenuhi
kewajiban kita sbagai kepala rumah tangga pun di anggap sedekah.
Setelah
membahas beberapa hadist mengenai motipasi bekerja dan berbisnis kita dapat
simpulkan bahwa betapa besarnya manfaat yang kita peroleh melalui bekerja dan
berbisnis. Padahal tindakan ini merupakan kewajiban kita sebagai manusia.
b.
Motivasi Bertani dan berkebun
عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم قَالَ
« مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِىَ لَهُ وَلَيْسَ لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ ».
Dari Sa’id bin
Zaid Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang menghidupkan
tanah yang mati, maka tanah itu menjadi miliknya dan tiada hak bagi keringat
yang zhalim” (HR Abu Daud no. 3075)
MUFRADAT
Siapa yang menghidupkan tanah yang
mati أَحْيَا
أَرْضًا مَيْتَة
فَهِىَ
لَهُ Maka tanah itu
Tidak ada hak bagi keringat yang
dzalim لِعِرْقٍ ظَالِمٍ حَقٌّ
Penjelasan
hadist:
Di sini
maksudnya adalah siapapun yang mengelola tanah dengan menanami tumbuhan atau
apapun itu maka itu akan menjadi haknya namun dengan catatan bukan tanah yang
memiliki hak milik.
عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى
الله عليه وسلم: مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا
فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ، أَوْ إِنْسَانٌ، أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ
صَدَقَةٌ.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang muslim
menanam pohon atau bercocok-tanam suatu tumbuhan lalu dimakan oleh burung atau
manusia atau hewan kecuali hal itu akan menjadi sedekah baginya.” (HR Bukhari
no 2320)
MUFRADAT
يَغْرِسُ غَرْسًا Menanam Pohon
يَزْرَعُ
زَرْعًافَيَأْكُل Bercocok tanam suatu
tumbuhan lalu di
makan
طَيْرٌ Burung
إِنْسَانٌ Manusia
بَهِيمَةٌ Hewan
Penjelasan hadist:
Semua tanaman yang di tanam oleh manusia kemudian di makan hewan,
atau di curi orang, atau juga di minta oleh orang yang mnginginkannya, jika kita
iklas dengan hal tersebut maka itu juga di hitung sedekah. Bukan musibah bagi
kita melainkan di berikan pahala yang berlipat ganda.
c.
Motivasi
Berusaha dan larangan Meminta-Minta
Pada
poin ini di tekankan bahwa manusia sbagai khalifah di muka bumi di larang untuk
meminta minta dan sangat di anjurkan untuk berusaha, karena seorang pemimpin
itu seharusnya memberi dan bukan meminta – minta. Berikut hadist yang
menjelaskan mengenai hal tersebut.
عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ
النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ
فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ
بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ ، أَوْ
مَنَعُوهُ.
Dari Zubair bin Awwam, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Sungguh seseorang di antara kalian mengambil tali lalu memanggul
seonggok kayu di punggungnya kemudian menjualnya sehingga Allah menjaga
kehormatan dirinya, lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain yang
terkadang mereka mau memberi atau menolaknya.” (HR. Bukhari, no. 1471)
MUFRADAT
حَبْلَهُ
Tali
بِحُزْمَةِ
Seonggok kayu
الْحَطَبِ
Di punggungnya
ظَهْرِهِ
فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ Menjualnya sehingga Allah
Menjaga kehormatan Dirinya lebih baik
يَسْأَلَ
النَّاسَ Meminta minta pada orang lain
أَعْطَوْهُMereka
mau membeli
مَنَعُوهُ
Menolaknya
Penjelasan hadist:
Pekerjaan yang pling rendah sekalipun dan lemah di mata sema
menusia itu lebih mulia di bandingkan dengan meminta – minta.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ
رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ وَذَكَرَ
الصَّدَقَةَ وَالتَّعَفُّفَ وَالْمَسْأَلَةَ الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ
الْيَدِ السُّفْلَى فَالْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ وَالسُّفْلَى هِيَ
السَّائِلَةُ.
Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, tangan di atas
adalah pemberi dan tangan di bawah adalah peminta-minta.” (HR. Bukhari, no.
1429)
MUFRADAT
الْيَدُ
الْعُلْيَاTangan di atas
الْيَدِ
السُّفْلَى Dari pada tangan di bawah
الْمُنْفِقَةُ
Pemberi
السَّائِلَةُ
minta-Peminta
Penjelasan hadist:
Penjelasan ini sudah di jelaskan di awal pembahasan poin ini yang
intinya memberi itu lebih baik daripada meminta – minta.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia yang khodratnya mempunyai kebutuhan yang harus ddi penuhi
dan juga memiliki keinginan yang sangat tinggi maka seharusnya untuk mencapai
hal tersebut kita harus berwirausaha. Kita tidak boleh hanya berdiam diri tanpa
berbuat sesuatu dan hanya berdoa kepada Allah swt.karena jika hanya berdoa
tanpa adanya usaha maka hal itu percuma. Keduanya harus di lakukan secara bersamaan.
Setelah membahas hadist – hadist tentang anjuran berusaha, dan
larangan meminta – minta maka kami dapat menyimpulkan bahwa islam juga sudah
melarang manusia untuk terus meminta – minta kepada sesama karena di setiap
individu yang di ciptakan allah memiliki kelebihan dan kekurangannya masing –
masing maka untuk menutupi kekurangan sesama manusia itulah seharusnya ada
peluang usaha yang kita peroleh. Di minsalkan, penduduk kota yang tidak bisa
bercocok tanam karena lahannya yang sempit bisa di tutupi dengan penduduk
pedesaan yang memiliki lahan yang luas. Itu baru contoh kecil dari SDA yang
tersedia, masih banyak contoh lainnya baik dlm bidang SDm dan lain sebagaimya.
B.
Saran
Setelah melihat
pembahasan di atas kami menyarankan kepada pembaca jika itu mahasiswa ada
baiknya kita terus berencana untuk memulai usaha dan jika mampu mengapa tidak
mulai dari sekarang kita memulainya. Agar nantinya kita tidak lagi menjadi
manusia yang mengharapkah rasa iba dari orang lain, atau menjadi peminta –
minta.
DAFTAR PUSTAKA
Ma’ruf Abdullah, Wirausaha Berbasis Syari’ah (Banjarmasin: Antasari
Press, 2011)
Buya H.M. Alfis Chaniago dan Saiful El-Usmani, Kumpulan Hadis Pilihan
(Jakarta: Dewan Mubaligh Indonesia, 2008)
Abdul Aziz Al Khayyath, Etika Bekerja Dalam Islam ( Jakarta: Gema
Insani Press, 1994)
[1]
Ma’ruf Abdullah, Wirausaha
Berbasis Syari’ah (Banjarmasin: Antasari Press, 2011), hlm. 1.
[2] Ma’ruf Abdullah, Wirausaha
Berbasis Syari’ah..., hlm. 3 – 8.
[3]
Buya H.M. Alfis Chaniago dan Saiful
El-Usmani, Kumpulan Hadis Pilihan (Jakarta: Dewan Mubaligh Indonesia,
2008), hlm. 98.
[4]Ma’ruf Abdullah, Wirausaha
Berbasis Syari’ah..., hlm. 49 – 62.
[5]
Abdul Aziz Al Khayyath, Etika
Bekerja Dalam Islam ( Jakarta: Gema Insani Press, 1994), hlm. 22.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar