Kata Pengantar
Segala
puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya kepada
kita.Salawat beserta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW.Penulis
bersyukur kepada Ilahi Robbi yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya
kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan
Makalah
ini nantinya akan membahas tentang ruang lingkup disiplin ilmu kewirausahaan.
Penulis
mengharapkan dengan ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa
serta materi yang ditulis dapat dipahami secara mendalam tentang hal-hal yang
berkaitan dengan yang dikaji dalam makalah ini.
Kami
menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan
kekhilafan.Oleh karena itu,saran dan kritik konstruktif yang mendukung demi
kesempurnaan makalah ini
Takengon,
28 November 2014
Ramli
Penulis
DISIPLIN ILMU
KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai,
kemampuan, dan perilaku seseorang dalam memghadapi tantangan hidup untuk
memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Dalam
konteks bisnis menurut Zimmerer ( 1996 ) “Kewirausahaan adalah hasil dari
suatu usaha disiplin serta proses sistematis serta penerapan kreativitas dan
inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.”
Dulu kewirausahaan dianggap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman
langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir, sehingga
wirausaha tidak dapat dipelajari dan diajarkan. Sekarang, kewirausahaan bukan
hanya urusan lapangan, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat diajari dan
diajarkan. Seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan
bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi wirausaha adalah orang-orang
yang mengenal potensi dan belajar mengembangkannya untuk menangkap peluang
serta mengorganisasi usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh sebab itu, untuk
menjadi wirausaha yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga
harus mempunyai pengetahuan tentang segala aspek usaha yang akan ditekuninya.
Dilihat dari awal perkembangannya, sejak awal abad ke-20, kewirausahaan
sudah diperkenalkan di beberapa Negara, misalnya di Belanda dikenal sebagai
“Ondermener” dan di jerman dikenal sebagai “Untermehner”. Di beberapa negara,
kewirausahaan memiliki beberapa tanggung jawab, antara lain tanggung jawab
dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepemimpinan teknis, kepemimpinan
organisasi dan komersil, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga
kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dan lain-lain. Kemudian pada
tahun 1950-an, pendidian kewirausahaan mulai dirintis di beberapa Negara seperti
di eropa, amerika dan kanada. Bahkan sejak tahun 1970-an, banyak universitas
yang mengajarkan kewirausahaan, manajemen usaha kecil, atau manajemen usaha
baru. Pada tahun 1980-an, hamper 500 sekolah di AS memberikan pendidikan
kewirausahaan. Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada
beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu.
Menurut Soeharto prawirokusumo, pendidikan kewirausahaan telah diajarkan
sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, karena :
1.
Kewirausahaan berisi bidang pengetahuan
yang utuh dan nyata, yaitu terdapat teori, konsep, dan metode ilmiah yang
lengkap.
2.
Kewirausahaan memiliki 2 konsep, yaitu
posisi permulaan dan perkembangan usaha, yang jelas tidak masuk dalam kerangka
pendidikan manajemen umum yang memisahkan antara meejemen dan kepemilikan
usaha.
3.
Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang
memiliki objek tersendiri, yaitu kemmpuan menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda.
4.
Kewirausahaan merupakan alat untuk
menciptakan pemerataan usaha dn pendapatan, atau kesejahteraan rakyat yang adil
dan makmur.
Seperti halnya ilmu manajemen yang awalnya berkembang di bidang industry,
kemudian berkembang dan diterapkan diberbagai bidang lainnya, maka disiplin
ilmu kewirausahaan dalam perkembangannya mengalami evolusi yang pesat. Pada
awalnya kewirausahaan berkembang dalam bidang perdagangan, namun kemudian
diterapkan di berbagai bidang lain seperti industry, perdagangan, pendidikan,
kesehatan dan institusi lain seperti lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan
lembaga swadaya lainnya. Dalam bidang-bidang tertentu, kewirausahaan telah
dijadikan kompetensi inti dalam menciptakan perubahan, pembaharuan, dan
kemajuan. Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat-kiat bisnis
jangka pendek, tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum dalam jangka
panjang untuk menciptakan peluang.
OBJEK STUDI
KEWIRAUSAHAAN
Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang
diwujudkan dalam bentuk prilaku. Menurut Soeparman S., kemampuan seseorang yang
menjadi obek kewirausahaan meliputi :
1.
Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha.
Dalam merumuskan tujuan perlu adanya perenungan dan koreksi, yang kemudian
dibaca, diamati berulang-ulang sampai dipahami secara mendalam.
2.
Kemampuan memotivasi diri.
Yaitu untuk melahirkan suatu tekad keauan yang besar.
3.
Kemampuan berinisiatif.
Kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang
lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga kebiasan tersebut menjadi suatu
inisiatif.
4.
Kemampuan berinovasi.
5.
Kemampuan membentuk modal material, sosial
dan intelektual.
6.
Kemampuan mengatur waktu dan membiasakan
diri.
7.
Kemampuan mental yang dilandasi agama.
8.
Kemampuan membiasakan diri dalam mengambil
hikmah dari pengalaman yang baik maupun
menyakitkan.
PERKEMBANGAN DISIPLIN
ILMU KEWIRAUSAHAAN
Dilihat dari perkembangannya,
kewirausahaan dikenal secara populer pada awal abad ke-18.
·
1755 : Seorang Irlandia
bernama Richard cantillon yang berdiam di Prancis merupakan orang pertama yang
menggunakan istilah “wirausaha” dalam bukunya Essai sur la nture du commerce
en generale. Dalam buku tersebut, ia menelaskan bahwa wirausaha adalah
seseorang yang mengambil resiko. Pada awalnya, wirausaha merupakan sebutan bagi
para pedagang yang membeli barang di daerah dan menjualnya dengan harga yang
tidak pasti.
·
1912 : Schumpeter
mengartikan wirausaha yang sampai saat ini masih relevan dan masih diikuti
banyak kalangan. Menurutnya wirausaha tidak selalu bararti pedagang atau
manajer, tetapi juga seorang yang unik yang memiliki keberanuan dalam mengambil
resiko dan memperkenalkan produk-produk yang inovatif serta teknologi baru ke
dalam perkonomian.
·
1994 : sejalan dengan
perkembangan konsep kewirausahaan, Peter F. Drucker mendefinisikan
kewirausahaan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan
berbeda.
·
1995 : Definisi yang
dikemukakan oleh Peter F. Drucker dikemukakan lebih luas lagi oleh Peter
Hisrich yang mengatakan bahwa kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu
yang berbeda untuk menghasilkan nilai dengan mencurahkan waktu dan usaha,
diikuti dengan penggunaan uang, fisik, resiko, dan kemudian menghasilkan balas
jasa berupa uang serta kepuasan dan kebebasan pribadi.
·
1996 :Definisi diatas
tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Thomas W. Zimmerer yang
mengungkapkan bahwa kewirausahan merupakan proses penerapan kreativitas dan
inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi orang dalam
setiap hari.
Teori Outcome
Expectancy
Bandura
(1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku
tetapi keyakinan tentang konskuensi yang
diterima setelah seseorang melakukan suatu
tindakan tertentu.
...judgement
about likely consequences of specific behaviors in particular
situations.
(Bandura, 1986:82)
Dari definisi di
atas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang
mengenai hasil yan akan diperolehnya
jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu
perilaku yang menunjukkan keberhasilan.
Seseorang memperkirakan bahwa
keberhasilannya dalam melakukan tugas
tertentu akan mendatangkan imbalan dengan
nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa
juga insentif kerja yang dapat diperoleh dnegan
segera atau dalam jangka panjang.
Karenanya jika seseorang menganggap profesi
wirausaha akan memberikan insentif yang
sesuai dengan keinginannya maka dia akan
berusaha untuk memenuhi keinginannya
dengan menjadi wirausaha. Michael Dell,
seorang mahasiswa teknik komputer di AS,
mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila
dia geluti serius hobi modifikasi
komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat
mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh
hal itu Dell terus mengembangkan usaha
dengan mendirikan Dell Corporation.
Hingga kini Del dan IBM terus bersaing di industri
komputer.
Jenis Outcome Expectancy
Menurut bandura
(1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang
diharapkan individu dan setiap jenis
memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut
adalah:
a. Insentif primer
Merupakan
imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan
isiologis kita seperti makan, minum,
kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat
nilainya jika seseorang dalam keadaan
sangat kekurangan, seperti kurang
makan/minum.
b. Insentif sensoris
Beberapa
kegiatan manusia ditujukan untk memperoleh umpan balik sensoris
yang terdapat di lingkungannya. Misalnya
anak kecil melakukan berbagai kegiatan
untuk mendapatkan insemtif sensoris
berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus
baru untuk dilihat atau orang dewasa
yang bermain musik untuk memperoleh umpan
balik sensoris berupa bunyi musik yang
dimainkan.
c. Insentif sosial
Manusia akan
melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan
penerimaan dari lingkungan sosialnya.
Penerimaan atau penolakan dari sebuah
lingkungan sosial akan lebih berfungsi
secara efektif sebagai imbalan atau hukuman
daripada reaksi yang berasal dari satu
individu.
d. Insentif yang berupa token ekonomi
Token ekonomi
adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat,
penambahan tunjungan, dan lain-lain.
Hampir seluruh masyarakat menggunakan
uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan
dengan uang, individu dapat memperoleh
hampir semua hal yang diinginkannya,
mulai dari pelayanan jasa hingga
pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.
e. Insentif yang berupa aktivitas
Teori-teori
mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis,
mengasumsikan bahwa imbalan akan
memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan
atau mengurangi dorongan fisiologis.
Ternyata dari penelitian terbaru diketahui
bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan
fisik justru memberikan nilai insentif yang
tersendiri pada individu.
f. Insentif status dan pengaruh
Pada sebagian
besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan
status kekuasaan. Kekuasaan yang
dimiliki individu dalam lingkungan sosial
memberikan kesempatan kepadnya untuk
mengontrol perilaku orang lain, baik
melalui simbol atau secara nyata. Dengan
kedudukannya yang tinggi dalam
masyarakat, mereka dapat menikmati
imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan,
dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini
membawa individu berusaha keras untuk
mencapai posisi yang memberikan
kekuasaan.
g. Insentif berupa terpenuhinya standar
internal
Insentif ini
berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari
pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari
hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri
seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa
puas dan senang merupakan salah satu bentuk
imbalan internal yang ingin diperoleh
seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang
merasakan bahwa kemampuannya tidak akan
dapat optimal bila hanya bekerja
sebagai karyawan, akan lebih puas bila
ia merasa bahwa dengan berwirausaha
segenap potensinya dapat tersalurkan.
Jadi ada
insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan
menjadi wirausaha. Antara lain insentif
primer, insentif sosial, insentif status dan
pengaruh, dan insentif terpenuhinya
standar iinternal.
Dalam pengertian kewirausahaan diatas dapat disimpulkan beberapa konsep
seperti kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bereda ( kreatif dan inovatif
), mengorganisasi, menanggung resiko, berorientasi hasil, peluang, kepuasan
diri, dan kebebasan. Oleh karena itu, jiwa dan perilaku kewirausahaan tidak
hanya ditemukan pada konteks bisnis, tetapi juga dalam semua organisasi dan
profesi.
Tujuan Pembentukan
Wirausaha
Teori-teori
diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat
menjadi wirausaha. Walau teori tersebut
masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke
empat teori tersebut saling mengisi.
Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat
menjadi model tahapan pembentukan yang
sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut
adalah:
a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam
dirinya dan berusaha untk
mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak
harus berupa materi saja, namun dapat juga
berupa ketidakpuasan terhadap dirinya
sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain).
Deficit equilibrium dapat
pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti
jika seseorang mendapat tekanan atau
hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta
mendapat dukungan dari orang lain
(Shapero & Sokol, 1982).
b. Pengambilan keputusan menjadi
wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk
mencari pemecahannya, untuk itu dia
mengevaluasi alternatif pemecahan yang
dimiliki. Dalam hal ini kemampuan
perseptual, kapasitas informasi yang
diterima, keberanian mengambil resiko, dan,
tingkat aspirasinya terhadap suatu
alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat
besar (Reitman, 1976) dalam usahanya
mengambil keputusan untuk menjadi
wirausaha.
c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil
dengan tujuan memecahkan masalah
kekurangan yang dia miliki. Di sini
masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya
harapan sebagai pemecahan.
Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia
dapat jika melakukan tindakan tertentu.
Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan
sehingga mendorong tindakan dan
perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman,
1973).
d. Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan
sangat penting untuk pengambilan
keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini
berupa insentif yang diyakini akan
dinikmati jika seseorang melaukan
kegiatan tertentu.
Peran
Pendidikan dalam Pembentukan Wirausaha
Bagaimana peran
pendidikan dalam proses pembetukan kewirausahaan? Masih
ada perdebatan mengenai pertanyan ini.
Meskipun seorang wirausaha belajar dari
lingkungannya dalam memahami dunia
wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan
bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart
daripada booksmart, maksudnya
adalah seorang wirausaha lebih
mengutamakan untuk belajar dari pengalaman
(streetsmart) dibandingkan dengan
belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart).
Pandangan ini masih perlu dibuktikan
kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka
secara tidak langsung usaha-usaha yang
dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa
kewirausahaan leat jalur pendidikan
formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.
Terhadap
pendangan di atas, Chruchill (1987) memberi sanggahan terhadap
pendapat ini, menurutnya masalah
pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan
wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa
kegagalan pertama dari seorang wirausaha
adalah karena dia lebih mengandalkan
pengalaman daripada pendidikan. Namun dia juga
tidak menganggap remeh arti pengalaman
bagi seoranga wirausaha, baginya sumber
kegagalan kedua adalah jika seorang
wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi
miskin pengalamam lapangan. Oleh karena
itu perpaduan antara pendidikan dan
pengalaman adalah faktor utaman yang
menentukan keberhasilan wirausaha.
Menurut Eels
(1984) dam Mas’oed (1994), dibandingkan dengan tenaga lain
tenaga terdidik S1 memiliki potensi
lebih besar untuk berhasil menjadi seorang wirausaha
karena memiliki kemampuan penalaran yang
telah berkembang dan wawasan berpikir
yang lebih luas. Seorang sarjana juga
memiliki dua peran pokok, pertama sebagai
manajer dan kedua sebagai pencetus
gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk
menyelesaikan masalah, sehingga
pegnetahuan manajemen dan keteknikan yang
memadai mutalk diperlukan. Peran kedua
menekankan pada perlunya kemampuan
merangkai alternatif-alternatif. Dalam
hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan
keilmuan yang lengkap.
Dari penjelasan
diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang
memiliki potensi sukses adalah mereka
yang mengerti kegunaan pendidikan untuk
menunjang kegiatan seta mau belajar
untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan
pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha
sebagai sarana untuk mencapai tujuan,
pendidikan disini berarti pemahaman
suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan
berpikir
HAKIKAT KEWIRASAHAAN
Meskipun sampai saat ini belum ada makna yang persis sama, pada umumnya
kewirausahaan memiliki hakikat yang hampir sama, yaitu merujuk pada sifat,
watak, ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk
mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata dan dapat mengembangkannya
dengan tangguh. Istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan entrepreneurship,
yang dapat diartikan sebagai “ the backbone of ecomomy “ yaitu sebagai syaraf
pusat perekonomian serta “the tailbone of economy” yaitu pengendali
perekonomian suatu bangsa. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas,
inovasi, dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja
keras untuk membentukdan memelihara usaha baru.
KEWIRAUSAHAAN DILIHAT
DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
Terlepas dari berbagai definisi kewiraushaan yang dikemukakan oleh beberapa
ekonom, wirausaha dapat dipandang dari berbagai sudut dan konteks, yaitu ahli
ekonom, ahli manajemen, pelaku bisnis, psikolog, dan pemodal.
·
Pandangan Ahli Ekonomi
Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan
faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam, tenaga kerja, material, dan
peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai lebih tinggi dari sebelumnya.
Wirausaha juga merupakan orang yang memperkenalkan perubahan-perubahan,
inovasi, perbaikan produksi lainnya.
·
Pandangan Ahli Manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengkombinasikan
sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, ketrampilan untuk
menghasilkan produk, proses produksi, bisnis, dan organisasi usaha baru.
·
Pandangan Pelaku Bisnis
Wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru dalam menghadapi
resiko dan ketidakpastian dengan maksud memperoleh keuntungan dan pertumbuhan
dengan cara mengenali peluang dan mengkombinasikan sumber-sumber daya yang
diperlukan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Wirausaha adalah pengusaha,
tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pelopor dalam
bisnis, innovator, penanggung resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki
keunggulan dalam prestasi di bidang usaha.
·
Pandangan Psikolog
Wirausaha adalah orang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya
untuk memperoleh suatu tujuan serta suka bereksperimen untuk menampilkan
kebebasan dirinya diluar kekuasan orang lain.
·
Pandangan Pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain,
menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan,
dan membuka lapangan pekerjaan yang disenangi masyarakat. Menurut Schumpeter,
wirausaha merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru dalam
bidang tehnik dan komersial ke dalam bentuk praktik. Inti dari fungsi pengusaha
adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang
perekonomian. Kemungkinan-kemungkinan baru yang dimaksud adalah :
1.
Memperkenalkan produk atau kualitas baru
suatu barang yang belum dikenal konsumen.
2.
Melakukan metode produksi dari penemuan
ilmiah dan cara-cara baru untuk menangani suatu produk agar menjadi lebih
mendatangkan keuntungan.
3.
Membuka suatu pasar baru, yaitu pasar yang
belum pernah ada atau belum pernah dimasuki cabang industri yang bersangkutan.
4.
Membuka suatu sumber dasar baru, atau
setengah jadi atau sumber-sumber yang masih harus dikembangkan.
5.
Pelaksanaan organisasi baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar