Jumat, 03 Juli 2015

makalah ruang lingkup disilin ilmu kewirausaan



Kata Pengantar


            Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam yang telah melimpahkan karunianya kepada kita.Salawat beserta salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah SAW.Penulis bersyukur kepada Ilahi Robbi yang telah memberikan hidayah serta taufik-Nya kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan

            Makalah ini nantinya akan membahas tentang ruang lingkup disiplin ilmu kewirausahaan.

            Penulis mengharapkan dengan ditulisnya makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa serta materi yang ditulis dapat dipahami secara mendalam tentang hal-hal yang berkaitan dengan yang dikaji dalam makalah ini.

            Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan kekhilafan.Oleh karena itu,saran dan kritik konstruktif yang mendukung demi kesempurnaan makalah ini



Takengon, 28 November 2014

Ramli

Penulis                    

 






DISIPLIN ILMU KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan, dan perilaku seseorang dalam memghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya. Dalam konteks bisnis menurut Zimmerer ( 1996 ) “Kewirausahaan adalah hasil dari suatu usaha disiplin serta proses sistematis serta penerapan kreativitas dan inovasi dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.”
Dulu kewirausahaan dianggap hanya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung di lapangan dan merupakan bakat yang dibawa sejak lahir, sehingga wirausaha tidak dapat dipelajari dan diajarkan. Sekarang, kewirausahaan bukan hanya urusan lapangan, tetapi merupakan disiplin ilmu yang dapat diajari dan diajarkan. Seseorang yang memiliki bakat kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Mereka yang menjadi wirausaha adalah orang-orang yang mengenal potensi dan belajar mengembangkannya untuk menangkap peluang serta mengorganisasi usaha dalam mewujudkan cita-citanya. Oleh sebab itu, untuk menjadi wirausaha yang sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus mempunyai pengetahuan tentang segala aspek usaha yang akan ditekuninya.
Dilihat dari awal perkembangannya, sejak awal abad ke-20, kewirausahaan sudah diperkenalkan di beberapa Negara, misalnya di Belanda dikenal sebagai “Ondermener” dan di jerman dikenal sebagai “Untermehner”. Di beberapa negara, kewirausahaan memiliki beberapa tanggung jawab, antara lain tanggung jawab dalam mengambil keputusan yang menyangkut kepemimpinan teknis, kepemimpinan organisasi dan komersil, penyediaan modal, penerimaan dan penanganan tenaga kerja, pembelian, penjualan, pemasangan iklan, dan lain-lain. Kemudian pada tahun 1950-an, pendidian kewirausahaan mulai dirintis di beberapa Negara seperti di eropa, amerika dan kanada. Bahkan sejak tahun 1970-an, banyak universitas yang mengajarkan kewirausahaan, manajemen usaha kecil, atau manajemen usaha baru. Pada tahun 1980-an, hamper 500 sekolah di AS memberikan pendidikan kewirausahaan. Di Indonesia, pendidikan kewirausahaan masih terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu.
Menurut Soeharto prawirokusumo, pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, karena :
1.       Kewirausahaan berisi bidang pengetahuan yang utuh dan nyata, yaitu terdapat teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
2.       Kewirausahaan memiliki 2 konsep, yaitu posisi permulaan dan perkembangan usaha, yang jelas tidak masuk dalam kerangka pendidikan manajemen umum yang memisahkan antara meejemen dan kepemilikan usaha.
3.       Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemmpuan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
4.       Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan usaha dn pendapatan, atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.


Seperti halnya ilmu manajemen yang awalnya berkembang di bidang industry, kemudian berkembang dan diterapkan diberbagai bidang lainnya, maka disiplin ilmu kewirausahaan dalam perkembangannya mengalami evolusi yang pesat. Pada awalnya kewirausahaan berkembang dalam bidang perdagangan, namun kemudian diterapkan di berbagai bidang lain seperti industry, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan institusi lain seperti lembaga pemerintah, perguruan tinggi, dan lembaga swadaya lainnya. Dalam bidang-bidang tertentu, kewirausahaan telah dijadikan kompetensi inti dalam menciptakan perubahan, pembaharuan, dan kemajuan. Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat-kiat bisnis jangka pendek, tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum dalam jangka panjang untuk menciptakan peluang.
OBJEK STUDI KEWIRAUSAHAAN
Objek studi kewirausahaan adalah nilai-nilai dan kemampuan seseorang yang diwujudkan dalam bentuk prilaku. Menurut Soeparman S., kemampuan seseorang yang menjadi obek kewirausahaan meliputi :
1.                   Kemampuan merumuskan tujuan hidup/usaha.
Dalam merumuskan tujuan perlu adanya perenungan dan koreksi, yang kemudian dibaca, diamati berulang-ulang sampai dipahami secara mendalam.
2.                   Kemampuan memotivasi diri.
Yaitu untuk melahirkan suatu tekad keauan yang besar.
3.                   Kemampuan berinisiatif.
Kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang baik tanpa menunggu perintah orang lain, yang dilakukan berulang-ulang sehingga kebiasan tersebut menjadi suatu inisiatif.
4.                   Kemampuan berinovasi.
5.                   Kemampuan membentuk modal material, sosial dan intelektual.
6.                   Kemampuan mengatur waktu dan membiasakan diri.
7.                   Kemampuan mental yang dilandasi agama.
8.                   Kemampuan membiasakan diri dalam mengambil hikmah dari pengalaman yang baik      maupun menyakitkan.

PERKEMBANGAN DISIPLIN ILMU KEWIRAUSAHAAN
Dilihat dari perkembangannya, kewirausahaan dikenal secara populer pada awal abad ke-18.
·         1755    : Seorang Irlandia bernama Richard cantillon yang berdiam di Prancis merupakan orang pertama yang menggunakan istilah “wirausaha” dalam bukunya Essai sur la nture du commerce en generale. Dalam buku tersebut, ia menelaskan bahwa wirausaha adalah seseorang yang mengambil resiko. Pada awalnya, wirausaha merupakan sebutan bagi para pedagang yang membeli barang di daerah dan menjualnya dengan harga yang tidak pasti.


·         1912    : Schumpeter mengartikan wirausaha yang sampai saat ini masih relevan dan masih diikuti banyak kalangan. Menurutnya wirausaha tidak selalu bararti pedagang atau manajer, tetapi juga seorang yang unik yang memiliki keberanuan dalam mengambil resiko dan memperkenalkan produk-produk yang inovatif serta teknologi baru ke dalam perkonomian.
·         1994    : sejalan dengan perkembangan konsep kewirausahaan, Peter F. Drucker mendefinisikan kewirausahaan sebagai kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda.
·         1995    : Definisi yang dikemukakan oleh Peter F. Drucker dikemukakan lebih luas lagi oleh Peter Hisrich yang mengatakan bahwa kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda untuk menghasilkan nilai dengan mencurahkan waktu dan usaha, diikuti dengan penggunaan uang, fisik, resiko, dan kemudian menghasilkan balas jasa berupa uang serta kepuasan dan kebebasan pribadi.
·         1996    :Definisi diatas tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Thomas W. Zimmerer yang mengungkapkan bahwa kewirausahan merupakan proses penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan mencari peluang yang dihadapi orang dalam setiap hari.

Teori Outcome Expectancy
Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku
tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu
tindakan tertentu.
...judgement about likely consequences of specific behaviors in particular
situations.
(Bandura, 1986:82)
Dari definisi di atas, outcome expectancy dapat diartikan sebagai keyakinan seseorang
mengenai hasil yan akan diperolehnya jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu
perilaku yang menunjukkan keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa
keberhasilannya dalam melakukan tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan
nilai tertentu juga. Imbalan ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dnegan
segera atau dalam jangka panjang. Karenanya jika seseorang menganggap profesi
wirausaha akan memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan
berusaha untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell,
seorang mahasiswa teknik komputer di AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila
dia geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan dapat
mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan usaha
dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Del dan IBM terus bersaing di industri
komputer.






Jenis Outcome Expectancy

Menurut bandura (1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang
diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut
adalah:

a. Insentif primer
Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan
isiologis kita seperti makan, minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat
nilainya jika seseorang dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang
makan/minum.

b. Insentif sensoris
Beberapa kegiatan manusia ditujukan untk memperoleh umpan balik sensoris
yang terdapat di lingkungannya. Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan
untuk mendapatkan insemtif sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus
baru untuk dilihat atau orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan
balik sensoris berupa bunyi musik yang dimainkan.

c. Insentif sosial
Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan
penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah
lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman
daripada reaksi yang berasal dari satu individu.

d. Insentif yang berupa token ekonomi
Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain.
Hampir seluruh masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan
dengan uang, individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya,
mulai dari pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.

e. Insentif yang berupa aktivitas
Teori-teori mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis,
mengasumsikan bahwa imbalan akan memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan
atau mengurangi dorongan fisiologis. Ternyata dari penelitian terbaru diketahui
bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan fisik justru memberikan nilai insentif yang
tersendiri pada individu.






f. Insentif status dan pengaruh
Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan
status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosial
memberikan kesempatan kepadnya untuk mengontrol perilaku orang lain, baik
melalui simbol atau secara nyata. Dengan kedudukannya yang tinggi dalam
masyarakat, mereka dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan,
dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk
mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.

g. Insentif berupa terpenuhinya standar internal
Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari
pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri
seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk
imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang
merasakan bahwa kemampuannya tidak akan dapat optimal bila hanya bekerja
sebagai karyawan, akan lebih puas bila ia merasa bahwa dengan berwirausaha
segenap potensinya dapat tersalurkan.

Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan
menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial, insentif status dan
pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar iinternal.

Dalam pengertian kewirausahaan diatas dapat disimpulkan beberapa konsep seperti kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan bereda ( kreatif dan inovatif ), mengorganisasi, menanggung resiko, berorientasi hasil, peluang, kepuasan diri, dan kebebasan. Oleh karena itu, jiwa dan perilaku kewirausahaan tidak hanya ditemukan pada konteks bisnis, tetapi juga dalam semua organisasi dan profesi.
Tujuan Pembentukan Wirausaha

Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat
menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke
empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat
menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut
adalah:

a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untk
mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga
berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain).
Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti
jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta
mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).

b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia
mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan
perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan,
tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat
besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi
wirausaha.

c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah
kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya
harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia
dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan
sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman,
1973).

d. Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan
keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan
dinikmati jika seseorang melaukan kegiatan tertentu.

Peran Pendidikan dalam Pembentukan Wirausaha

Bagaimana peran pendidikan dalam proses pembetukan kewirausahaan? Masih
ada perdebatan mengenai pertanyan ini. Meskipun seorang wirausaha belajar dari
lingkungannya dalam memahami dunia wirausaha, namn ada pendapat yang mengatakan
bahwa seorang wirausaha lebih memiliki streetsmart daripada booksmart, maksudnya
adalah seorang wirausaha lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman
(streetsmart) dibandingkan dengan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart).
Pandangan ini masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka
secara tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa
kewirausahaan leat jalur pendidikan formal pada akhirnya sukar untuk berhasil.


Terhadap pendangan di atas, Chruchill (1987) memberi sanggahan terhadap
pendapat ini, menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan
wirausaha. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama dari seorang wirausaha
adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun dia juga
tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seoranga wirausaha, baginya sumber
kegagalan kedua adalah jika seorang wirausaha hanya bermodalkan pendidikan tapi
miskin pengalamam lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan
pengalaman adalah faktor utaman yang menentukan keberhasilan wirausaha.


Menurut Eels (1984) dam Mas’oed (1994), dibandingkan dengan tenaga lain
tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil menjadi seorang wirausaha
karena memiliki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir
yang lebih luas. Seorang sarjana juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai
manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk
menyelesaikan masalah, sehingga pegnetahuan manajemen dan keteknikan yang
memadai mutalk diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan
merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan
keilmuan yang lengkap.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa seorang wirausaha yang
memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk
menunjang kegiatan seta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan
pendidikan dimanfaatkan oleh wirausaha sebagai sarana untuk mencapai tujuan,
pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir

HAKIKAT KEWIRASAHAAN
Meskipun sampai saat ini belum ada makna yang persis sama, pada umumnya kewirausahaan memiliki hakikat yang hampir sama, yaitu merujuk pada sifat, watak, ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh. Istilah kewirausahaan berasal dari terjemahan entrepreneurship, yang dapat diartikan sebagai “ the backbone of ecomomy “ yaitu sebagai syaraf pusat perekonomian serta “the tailbone of economy” yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, inovasi, dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentukdan memelihara usaha baru.
KEWIRAUSAHAAN DILIHAT DARI BERBAGAI SUDUT PANDANG
Terlepas dari berbagai definisi kewiraushaan yang dikemukakan oleh beberapa ekonom, wirausaha dapat dipandang dari berbagai sudut dan konteks, yaitu ahli ekonom, ahli manajemen, pelaku bisnis, psikolog, dan pemodal.
·         Pandangan Ahli Ekonomi
Menurut ahli ekonomi, wirausaha adalah orang yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam, tenaga kerja, material, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai lebih tinggi dari sebelumnya. Wirausaha juga merupakan orang yang memperkenalkan perubahan-perubahan, inovasi, perbaikan produksi lainnya.
·         Pandangan Ahli Manajemen
Wirausaha adalah seseorang yang memiliki kemampuan dalam menggunakan dan mengkombinasikan sumber daya seperti keuangan, material, tenaga kerja, ketrampilan untuk menghasilkan produk, proses produksi, bisnis, dan organisasi usaha baru.
·         Pandangan Pelaku Bisnis
Wirausaha adalah orang yang menciptakan suatu bisnis baru dalam menghadapi resiko dan ketidakpastian dengan maksud memperoleh keuntungan dan pertumbuhan dengan cara mengenali peluang dan mengkombinasikan sumber-sumber daya yang diperlukan untuk memanfaatkan peluang tersebut. Wirausaha adalah pengusaha, tetapi tidak semua pengusaha adalah wirausaha. Wirausaha adalah pelopor dalam bisnis, innovator, penanggung resiko yang mempunyai visi ke depan dan memiliki keunggulan dalam prestasi di bidang usaha.
·         Pandangan Psikolog
Wirausaha adalah orang yang memiliki dorongan kekuatan dari dalam dirinya untuk memperoleh suatu tujuan serta suka bereksperimen untuk menampilkan kebebasan dirinya diluar kekuasan orang lain.
·         Pandangan Pemodal
Wirausaha adalah orang yang menciptakan kesejahteraan untuk orang lain, menemukan cara-cara baru untuk menggunakan sumber daya, mengurangi pemborosan, dan membuka lapangan pekerjaan yang disenangi masyarakat. Menurut Schumpeter, wirausaha merupakan pengusaha yang melaksanakan kombinasi-kombinasi baru dalam bidang tehnik dan komersial ke dalam bentuk praktik. Inti dari fungsi pengusaha adalah pengenalan dan pelaksanaan kemungkinan-kemungkinan baru dalam bidang perekonomian. Kemungkinan-kemungkinan baru yang dimaksud adalah :
1.       Memperkenalkan produk atau kualitas baru suatu barang yang belum dikenal konsumen.
2.       Melakukan metode produksi dari penemuan ilmiah dan cara-cara baru untuk menangani suatu produk agar menjadi lebih mendatangkan keuntungan.
3.       Membuka suatu pasar baru, yaitu pasar yang belum pernah ada atau belum pernah dimasuki cabang industri yang bersangkutan.
4.       Membuka suatu sumber dasar baru, atau setengah jadi atau sumber-sumber yang masih harus dikembangkan.
5.       Pelaksanaan organisasi baru.